Menyusuri Budaya, Tradisi, dan Wisata Religi Masyarakat Banten Selatan di Pandeglang
Pandeglang menyimpan jejak budaya Sunda Banten, tradisi religius, kuliner lokal, dan lanskap pesisir yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Fakta Kunci
- Pandeglang berada di Provinsi Banten dan beribu kota di Kecamatan Pandeglang.
- Jumlah penduduk Pandeglang pada pertengahan 2024 mencapai 1.413.897 jiwa.
- Masjid Agung Pandeglang menjadi salah satu ruang penting kegiatan keagamaan masyarakat di pusat kabupaten.
- Cikadueun dikenal sebagai lokasi ziarah makam Syekh Maulana Mansyur.
- Kawasan pesisir Pandeglang mencakup wilayah wisata seperti Carita dan Tanjung Lesung.
Dari Pasar Pagi ke Ruang Keagamaan
Pagi di Pandeglang dapat dimulai dari suasana pasar, warung sarapan, atau jalan kabupaten yang ramai oleh warga menuju tempat kerja dan sekolah. Di antara aktivitas itu, identitas budaya terasa melalui bahasa, makanan, cara menyapa, serta hubungan erat antarkampung. Pandeglang berada di Provinsi Banten, dengan ibu kota di Kecamatan Pandeglang. Pada pertengahan 2024, jumlah penduduknya mencapai 1.413.897 jiwa. Angka itu menggambarkan wilayah yang luas dan beragam, dari pusat pemerintahan sampai desa pesisir serta kawasan perbukitan.
Masyarakat Banten Selatan memiliki latar budaya yang kuat dengan pengaruh Sunda dan tradisi keislaman. Nilai agama tidak hanya hadir di masjid, tetapi juga dalam kebiasaan menghormati orang tua, menjaga hubungan keluarga, membantu tetangga, dan berkumpul ketika ada hajatan. Bentuknya tidak selalu berupa upacara besar. Banyak tradisi hidup melalui rutinitas sederhana yang diwariskan di rumah dan lingkungan kampung.
Masjid Agung Pandeglang menjadi salah satu titik penting untuk memahami kehidupan religius di pusat kabupaten. Selain digunakan untuk ibadah, masjid menjadi ruang pertemuan masyarakat, pengajian, dan kegiatan keagamaan. Pengunjung perlu memperhatikan waktu salat, pakaian, serta ketenangan lingkungan ketika datang.
Ziarah, Doa, dan Etika Mengunjungi Cikadueun
Wisata religi di Pandeglang tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan ziarah. Cikadueun dikenal sebagai lokasi makam Syekh Maulana Mansyur yang didatangi peziarah dari berbagai daerah. Bagi sebagian masyarakat, perjalanan ke makam menjadi kesempatan untuk berdoa, mengenang ulama, dan memperkuat hubungan batin dengan sejarah dakwah Islam di Banten.
Ziarah bukan sekadar perjalanan menuju sebuah lokasi. Peziarah biasanya menjaga tutur kata, mengikuti arahan pengelola atau tokoh setempat, dan menghormati warga sekitar. Pengunjung sebaiknya tidak memotret orang tanpa izin, tidak mengganggu kegiatan ibadah, serta menjaga kebersihan. Bila datang bersama rombongan, parkir dan lalu lintas kampung perlu diperhatikan agar tidak menyulitkan penduduk.
Kehidupan religius juga tampak dalam pengajian, pembacaan doa, peringatan hari besar Islam, dan kegiatan sosial. Detail pelaksanaan dapat berbeda antarwilayah dan berubah mengikuti kesepakatan masyarakat. Karena itu, informasi waktu kunjungan sebaiknya dikonfirmasi kepada pengelola tempat atau warga setempat sebelum berangkat. Sikap tersebut membantu wisatawan memperoleh pengalaman yang lebih tertib sekaligus menghormati tradisi lokal.
Pesisir, Kuliner, dan Budaya yang Terus Bergerak
Perjalanan budaya di Pandeglang dapat dilanjutkan ke kawasan pesisir seperti Carita dan Tanjung Lesung. Pantai menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat, bukan hanya latar untuk berfoto. Nelayan, pedagang makanan, pengelola penginapan, dan pelaku usaha kecil menggantungkan penghasilan pada aktivitas harian serta kunjungan wisatawan. Cuaca, kondisi jalan, dan kepadatan pengunjung dapat memengaruhi perjalanan, sehingga rencana yang fleksibel lebih aman.
Di meja makan, jojorong menjadi salah satu kuliner khas Banten yang dikenal di Pandeglang. Kue berbahan tepung beras dengan kuah santan dan gula aren ini lazim disajikan dalam wadah daun pisang. Rasanya lembut dan manis, tetapi ketersediaannya bergantung pada penjual dan waktu kunjungan. Wisatawan dapat menanyakan bahan serta cara penyajian kepada pedagang, terutama bila memiliki pantangan makanan.
Kesenian tradisional Banten, termasuk debus, juga berkaitan dengan ingatan masyarakat tentang keberanian, ketahanan, dan nilai spiritual. Pertunjukan tidak selalu berlangsung setiap hari, sehingga wisatawan tidak sebaiknya menganggapnya sebagai agenda rutin di semua tempat. Informasi dari sanggar, pemerintah desa, atau penyelenggara lokal menjadi rujukan paling aman.
Menyusuri Pandeglang pada 2025 dan 2026 berarti menghargai hal-hal yang tumbuh dari masyarakat: masjid yang aktif, makam yang diziarahi, makanan yang dibuat turun-temurun, serta pesisir yang menjadi sumber penghidupan. Datang dengan waktu cukup, belanja dari usaha lokal, mengurangi sampah, dan meminta izin sebelum mendokumentasikan kegiatan. Dengan cara itu, perjalanan budaya tidak berhenti pada kunjungan, tetapi ikut menjaga ruang hidup masyarakat Banten Selatan.
Cuplikan Video
Tanya Jawab Singkat
Di mana wisata religi yang dikenal di Pandeglang?
Masjid Agung Pandeglang dan kawasan makam Syekh Maulana Mansyur di Cikadueun termasuk lokasi yang dikenal dalam kegiatan keagamaan dan ziarah.
Apa kuliner khas yang dapat dicari di Pandeglang?
Jojorong dikenal sebagai salah satu kuliner khas Banten yang dapat ditemukan di Pandeglang, bergantung pada penjual dan waktu kunjungan.
Apakah debus selalu dipertunjukkan di Pandeglang?
Tidak selalu. Jadwal pertunjukan bergantung pada sanggar atau penyelenggara lokal, sehingga informasi perlu dikonfirmasi sebelum berkunjung.
Apa etika saat mengunjungi tempat ziarah?
Kenakan pakaian sopan, jaga ketenangan, ikuti arahan pengelola, tidak memotret tanpa izin, dan bawa pulang sampah.